Pelatih Sekaligus Pelaku

Kepala Divisi Penanggulangan Bencana (PB) Markas Pusat Palang Merah Indonesia (PMI), Arifin Muh. Hadi menegaskan, Pelatihan untuk Pelatih Manajemen Tanggap Darurat, bukan hanya menciptakan relawan yang sudah memiliki spesialisasi dan pengalaman di bidang tanggap darurat bencana untuk menjadi pelatih, melainkan juga sebagai pelaku di lapangan nantinya.
Hal itu ditegaskan Arifin, dalam sambutannya pada acara pembukaan Pelatihan untuk Pelatih Manajemen Tanggap Darurat di aula Gedung Pendidikan dan Latihan (Diklat) PMI Daerah Jawa Tengah, Semarang (2/8). “Pelatihan ini merupakan jenjang tertinggi dalam bidang penanggulangan bencana. Kami berharap, para peserta ini kelak tidak hanya memposisikan diri sebagai pelatih semata, tapi juga pelaku di lapangan,” tandasnya.
Lebih lanjut dijelaskan, saat ini, para pelatih PMI dalam bidang tanggap darurat, eksistensinya bukan hanya diperhitungkan atau menjadi barometer di tingkat Asia Tenggara, tapi juga di Asia-Afrika. “Dalam waktu dekat ini , sekitar November 2009, PMI diminta secara langsung untuk memberikan pelatihan tentang RFL (Restoring Family Link) di Naerobi, Kenya,” tuturnya.
Arifin berharap, kegiatan pelatihan untuk pelatih bidang manajemen tanggap darurat bencana ini tidak sekedar memenuhi program kerja atau menambah jumlah pelatih di bidang tersebut. Akan tetapi, bisa mencetak pelatih-pelatih yang berkualitas. Keberadaannya nanti sebagai utusan daerah maupun cabang bisa mengamalkan pengetahuan dan keterampilan yang didapat kepada relawan lainnya, terutama kepada masyarakat.
Tuntutan Kebutuhan
Sementara itu, ketua panitia pelatihan, Puji Astuti, menyatakan, kebutuhan akan penambahan personil pelatih di bidang tanggap darurat bencana di lingkungan PMI sangat mendesak, mengingat saat ini hanya beberapa pelatih saja yang ada. “Selain untuk memenuhi kebutuhan pelatih di bidang tanggap darurat bencana di tiap-tiap daerah atau cabang, pelatihan ini juga diharapkan bisa menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat akan pentingnya kesiapsiagaan dan tanggap darurat, sehingga para utusan PMI daerah ini diharapkan nantinya bisa mengamalkan ilmunya kepada masyarakat dan sekaligus mengabdikan diri sebagai pelaku saat tanggap darurat nantinya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, peserta yang mengikuti pelatihan di Semarang terdiri dari unsur perwakilan PMI Daerah, PMI Pusat, dan Federasi berjumlah 37 orang dari 39 orang yang diundang. Peserta yang hadir yakni dari PMI Daerah NAD (Fauzi Husaini, Fahmi, & Marhamah), Sumatera Utara (Harliandi Mahardika & Elina Sefeyus Halawa), Sumatera Barat (Zulherdi & Novitriyardi), Jambi (Suwanto & Chairul Sani), Bengkulu (Saeful Ibrahim & Vice Elise), Riau (Bobi Heryanto & Dwi Sepri Ariani), Lampung (Ir. Sumiyanto & Rumiyati), Jakarta (Heri A & Didi Supriyadi, S.Sos), Jawa Tengah (Juni MNF, Tri Sukrisdiyanto & Ali Masyhar), Kalimantan Barat (dr. David Sianipar & Lutfi Faurusal Hasan, SP), Kalimantan Tengah (dr. Jum’atil Fajar & Titin Srikandi), Kepulauan Riau (Nuraida Susanti & Decki Nuryanto), Bangka Belitung (Ibnu S & Sulfani Awang, SE), Banten (Awang Hendriawan/Cabang Serang & Nurwarta Wiguna/Cabang Cilegon), Jawa Barat (Heni Prianggani & Tri Martani), PMI Pusat (Ujang Dede, Andew M, Ummi Alfiyah, Tia Kurniawan), dari unsur Federasi (Febi).
Fasilitator pada kegiatan pelatihan untuk pelatih Manajemen Tanggap Darurat yakni dari unsur pengurus PMI Jateng, H. Tobhari, Prof. Aji S, dan Frida NRH. Sedangkan dari PMI Pusat, Abidin dan Puji Astuti, dibantu staf PMI Jateng Wuri.
Usai pembukaan, acara dilanjutkan dengan free tes. Para peserta langsung disuguhkan sebanyak 20 pertanyaan. Free tes ini diberikan sebagai salah satu upaya guna mengingatkan kembali (refresh) kepada relawan tentang materi-materi yang sudah mereka dapat pada pelatihan spesialisasi. Meski demikian, beberapa peserta mengaku kesulitan ketika harus menjawab pertanyaan yang bersifat hapalan tersebut. *

Loading...

